PERSAHABATAN
AMIRA LATIFA
Alma
adalah gadis yang periang, pandai dalam bidang akademik, tak hanya itu ia juga
memiliki banyak teman mau itu di sekolah atau di luar sekolah karena Alma memiliki sifat yang
ramah.
Naira
bisa dibilang sahabatnya Alma
tapi itu dulu sekarang lebih tepatnya sudah menjadi mantan sahabat karena kesalahpahaman di masa
lalu. Padahal mereka sudah
bersahabat empat tahun tapi karena masalah tersebut persahabatan mereka putus.
Alma
berjalan tergesa gesa di lorong sekolah sambil membawa empat buku yang tebal di
tangannya, tanpa sengaja Alma menabrak bahu Naira dan buku yang di tangan alma
pun berhamburan sedangkan Naira hanya menatap sinis Alma tanpa ada niatan
membantu Alma.
“Kalau jalan liat-liat
napa”,
ucap Naira.
“Maaf Naira aku jalan tadi terlalu
terburu-buru”
jawab Alma.
Naira
hanya mengedikan bahu lalu ia lanjut jalan meninggalkan Alma.
“kenapa sih,
sifat Naira ga berubah-ubah”, ucap Alma dalam
hati.
Alma
memasuki kelas assalamualaikum
ucap Alma,
sedangkan di dalam kelas sudah ada guru.
“Dari mana kamu Alma?”, tanya Ibu Sasa lembut.
“Tadi saya abis bantu Ibu Sari, Bu”, jawab Alma.
Ibu
Sasa mengangguk.
“Silahkan duduk Alma”, ucap Bu Sasa.
“Sekian pelajaran hari ini, assalamualaikum”, ucap Bu Sasa mengakhiri jam
pelajaran.
“Waalaikumsalam”, jawab seisi kelas.
Alma
berjalan ke meja Naira
duduk sedangkan Naira
yang lagi merapikan buku-bukunya
untuk pulang pun terhenti karena keberadaan Alma. Naira menaikkan alisnya pertanda kenapa.
“Naira
aku mau ngomong”,
ucap Alma.
“Aku
ga punya banyak waktu”,
jawab naira,
“Please,
kali ini aja ini penting”,
ucap Alma
memohon.
“Hmm, lima menit”, jawab Naira.
“Kita ga bisa baikkan, Nai?”, tanya
Alma sedangkan naira hanya
mengedikkan bahu.
“Ok, kalau kamu ga mau baikkan sama aku tapi
tolong kali ini kamu harus dengar penjelasan aku”.
Naira hanya diam pertanda ia akan dengar
penjelasan Alma,
Alma tarik nafas dalam dan
melanjutkan ngomongnya.
“Ok, jadi masalah satu tahun yang
lalu tentang kecelakaan adikmu itu bukan orang tuaku yang menabraknya, melainkan Om Hendra dan Tante Rara mereka berdua saudara
aku” ucap alma serius.
“Gak mungkin semuanya udah
ada bukti” jawab Naira
ga percaya atas perkataan Alma. “Ok, jadi gini waktu satu tahun
yang lalu keluarga aku lagi jaya-jayanya
sedangkan paman dan tante aku perusahaan mereka lagi mengalami penurunan yang
besar. Jadi, mereka memutuskan untuk ke
rumah aku dengan alasan refreshing.
Padahal mereka mau merebut
perusahaan papa aku tapi mereka ga tahu caranya. Sampai hari di mana kamu dan adik kamu
main ke rumah
aku mereka tahu
kalau aku dan kamu itu sudah lama sahabatan. Jadi, mungkin yang ada dalam pikiran mereka cara
satu-satunya
adalah memisahkan kamu dan aku dengan cara memakai mobil papa aku agar nanti saat diselidiki yang menjadi tersangka
papa aku tapi saat
kecelakaan itu bukan kamu yang kena melainkan adik kamu yang sampai sekarang
masih dalam keadaan koma”, ucap
Alma menjelaskan kronologi
kejadiannya.
“Dan
kamu tenang aja Om
Hendra dan Tante
Rara lagi menjalankan proses
hukum dan papa aku juga udah keluar dari penjara dan ayah sama bunda kamu juga
udah tahu
kejadian yang sebenarnya”
“Makasih
udah mau dengarin penjelasan aku, oh ya
satu lagi kenapa ayah sama bunda kamu ga mau beri tahu ini karena mereka ga mau kita berteman lagi
karena ayah bunda kamu ga mau
kejadian ini terulang lagi”,
ucap Alma
mengakhiri
percakapan lalu bangun dari duduk untuk pergi dan terhalang karena tangan Alma ditahan oleh Naira. “Alma maafin aku”, ucap Naira menangis sesegukan
sedangkan Alma
terkejut lalu memeluk Naira.
“Iya, Nai ga apa-apa”, ucap Alma menenangkan Naira kemudian tangis Naira pun mereda.
“Kamu
masih mau kan sahabatan sama aku?”,
tanya Naira ke Alma.
Alma
hanya mengangguk sebagai jawaban lalu Naira memeluk kuat Alma seakan tidak mau
melepaskannya lagi.

